NO
|
NAMA ALAT
|
FUNGSI
|
1
|
Erlenmeyer
|
· Tempat membuat
larutan,
· Menganalisis kuantitatif secara volumetri (titrasi),
· Pembiakan mikroba.
|
2
|
Labu
Destilasi
|
· Untuk
destilasi larutan.
|
3
|
Gelas
Beaker (gelas piala)
|
· Menyimpan dan
memuat larutan,
· Hanya sebatas
digunakan untuk penampung, bukan digunakan untuk pengukur.
|
4
|
Corong
Gelas
|
· Memasukkan
atau memindah larutan dari satu tempat ke tempat lain,
· Proses
penyaringan (setelah diberi kertas saring pada bagian atas).
|
5
|
Gelas
Ukur
|
· Mengukur
volume larutan dengan ketelitian rendah.
|
6
|
Tabung
Reaksi
|
· Mereaksikan
dua atau lebih zat.
|
7
|
Buret
|
· Titrasi (yang
membutuhkan presisi tinggi),
· Mengukur
volume suatu larutan,
· Untuk
keperluan kuantitatif analisis.
|
8
|
Labu
Ukur
|
· Untuk membuat
dan atau mengencerkan larutan dengan ketelitian tinggi,
· Untuk menyiapkan larutan dalam kimia analitik yang
konsentrasi dan jumlahnya diketahui dengan pasti dengan keakuratan yang
sangat tinggi.
|
9
|
Mortal
dan Pastle
|
· Menghaluskan
zat yang bersifat padat/ kristal.
|
10
|
Pembakar
Bunsen (Pemanas)
|
· Memanaskan
larutan,
· Proses
sterilisasi.
|
11
|
Klem
dan Statif
|
· Penjepit,
misalnya:
a.
Menjepit soklet pada proses ekstraksi,
b.
Menjepit buret dalam proses titrasi,
c.
Menjepit kondensor pada proses destilasi.
|
12
|
Corong
Bucher
|
· Menyaring
larutan dengan bantuan pompa vakum.
|
13
|
Corong
Pisah
|
· Memisahkan dua
larutan yang tidak bercampur karena adanya perbedaan massa jenis (contoh: air
dan minyak),
· Biasa
digunakan pada proses ekstraksi.
|
14
|
Kondensor
|
·
Destilasi larutan,
·
Lubang bawah tempat air masuk, lubang atas tempat
air keluar.
|
14
|
Filler
(karet penghisap)
|
· Menghisap
larutan.
|
15
|
Pipet
Ukur
|
· Untuk mengukur
volume larutan.
|
16
|
Pipet
Volume/ Pipet Gondok/ Volumetrik
|
· Untuk
mengambil larutan dengan volume tertentu sesuai dengan label yang tertera
pada bagian yang menggembung.
|
17
|
Pipet
Tetes
|
· Meneteskan
atau mengambil larutan dalam jumlah kecil.
|
18
|
Pengaduk
|
·
Untuk mengocok atau mengaduk sesuatu yang akan
direaksikan maupun ketika reaksi sedang berlangsung.
|
19
|
Spatula
|
·
Untuk mengambil bahan-bahan kimia dalam bentuk
zat padat, misalnya dalam bentuk kristal. Untuk zat-zat yang bereaksi dengan
logam digunakan spatula plastik sedangkan zat-zat yang tidak bereaksi dengan
dengan logam dapat digunakan spatula logam.
|
20
|
Kawat
Nikrom
|
· Untuk uji
nyala dari beberapa zat
|
21
|
Pipa
Kapiler
|
·
Untuk mengalirkan gas ke tempat tertentu,
·
Penentuan titik lebur suatu zat.
|
22
|
Desikator
|
·
Untuk menyimpan bahan-bahan yang harus bebas
air,
·
Mengeringkan zat-zat dalam laboratorium,
·
Dikenal dua jenis desikator yaitu desikator
biasa dan desikator vakum.
|
23
|
Indikator
Universal
|
· Untuk
mengidentifikasi keasaman suatu larutan/ zat
|
24
|
Gelas
Arloji
|
· Sebagai
penutup saat melakukan pemanasan terhadap suatu bahan kimia,
· Untuk
menimbang bahan - bahan kimia,
· Untuk
mengeringkan suatu bahan dalam desikator.
|
25
|
Hot
Hands
|
· Untuk memegang
peralatan gelas yang masih dalam kondisi panas.
|
26
|
Kertas
Saring
|
· Untuk
menyaring larutan.
|
27
|
Kaki
Tiga
|
· Penyangga
pembakar spritus.
|
28
|
Kawat
Kasa
|
· Sebagai alas,
· Untuk menahan
labu atau beaker pada waktu pemanasan menggunakan pemanas spiritus atau
pemanas Bunsen.
|
29
|
Rak
Tabung Reaksi
|
· Tempat tabung
reaksi.
|
30
|
Penjepit
|
· Untuk menjepit
tabung reaksi.
|
31
|
Stirer
dan Batang Strirer
|
·
Pengaduk magnetic,
·
Untuk mengaduk larutan,
·
Batang-batang magnet diletakan di dalam
larutan kemudian disambungkan arus listrik maka secara otomatis batang
magnetik dari stirer akan berputar.
|
32
|
Krusibel
|
· Terbuat dari
porselen,
· Bersifat
inert,
· Digunakan
untuk memanaskan logam - logam.
|
33
|
Evaporating
Dish
|
· Wadah,
· Misalnya
penguapan larutan dari suatu bahan yang tidak mudah menguap.
|
34
|
Ring
|
· Menjepit
corong pemisah dalam proses pemisahan,
· Meletakan
corong pada proses penyaringan.
|
35
|
Clay
Triangle
|
· Menahan wadah,
misalnya krusibel pada saat pemanasan atau corong pada waktu penyaringan.
|
36
|
Kacamata
Pengaman
|
· Melindungi
mata dari bahan yang menyebabkan iritasi,
· Melindungi
dari percikan api, uap logam, serbuk debu, kabut, dan zat-zat kimia yang
meletup ketika dilakukan pemanasan, misalnya H2SO4.
|
37
|
Pembakar
Spritus
|
· Membakar zat,
· Memanaskan
larutan.
|
38
|
Hot
Plate
|
· Memanaskan
larutan,
· Biasanya untuk
larutan yang mudah terbakar.
|
39
|
Oven
|
· Mengeringkan
alat-alat sebelum digunakan,
· Mengeringkan
bahan yang dalam keadaan basah.
|
40
|
Tanur
|
· Pemanas pada
suhu tinggi (± 1.000˚C)
|
41
|
Inkubator
|
· Untuk
fermentasi,
· Menumbuhkan
media pada pengujian secara mikrobiologi.
|
42
|
Granat
(tidak ada di lab.)
|
· Untuk
menghancurkan.
|
Sabtu, 15 Agustus 2015
Peralatan Laboratorium dan Fungsinya
Jumat, 14 Agustus 2015
Koala Kumal
Judul : Koala Kumal
Penulis : Raditya
Dika
Tema : Komedi
Isi :
Ada Jagwe di Kepalaku. Cerita tentang Radit yang masa kecilnya tak punya banyak teman. Di saat ia sudah mulai dekat dengan dua sahabat barunya, terjadi peristiwa yang membuat persahabatan mereka merenggang.
Ingatlah Ini Sebelum Bikin Film. Tentang Radit yang tidak ingin keluarganya menonton film Cinta Brontosaurus sebab ia khawatir keluarganya, terutama Bapak, akan marah karena digambarkan dengan begitu konyol di film itu.
Balada Lelaki Tomboi. Gimana rasaya pacaran dengan dengan cewek yang lebih ‘laki-laki’ dibanding kamu? Radit pernah mengalaminya. Intinya, cewek ini bikin Radit jadi nggak pede sebagai laki-laki. Dan untuk pertama kalinya Radit bela-belain melatih fisiknya agar mampu mengimbangi si cewek yang memang jago olah raga. Sayang, perjuangan Radit harus berakhir tak manis.
Panduan Cowok dalam Menghadapi Penolakan.
Kucing Story. Cerita ketika Radit hendak membeli kucing.
LB. Ceritanya bersetting di Thailand.
Perempuan Tanpa Nama. Bab ini berkisah tentang perempuan-perempuan yang pernah menyentuh hati Radit. Sayang, karena keadaan (juga karena Raditnya sendiri sih), ia jadi tak bisa mengetahui nama mereka. Meski begitu, setelah bertahun-tahun berlalu, rupanya para Perempuan Tanpa Nama itu masih ngenggeliat di salah satu sudut otak Radit, sehingga ia menuliskan tentang mereka di bab ini.
Menciptakan Miko. Radit bercerita tentang awal mula ia menciptakan Miko. Benar-benar mulai dari nol. Radit yang nggak punya latar belakang di bidang film sempat kewalahan. Di sini juga diceritakan awal mula perekrutan karakter Anca si asisten rumah tangga.
Lebih Seram Dari Jurit Malam. Cerita ini sewaktu Radit masih SMP. Horor-horor lucu gitu ceritanya. Pada bab ini, Radit bercerita tentang dirinya yang tak sadar telah membuat orang lain patah hati.
Patah Hati Terhebat. Yang mengalami bukan Radit, tapi temannya. Tragis banget. Patah hati yang dialami si teman itu membuat cara pandangnya terhadap cinta berubah total.
Aku Ketemu Orang Lain. Cerita tentang pacaran jarak jauh. Mungkin LDR bisa berhasil bagi beberapa orang. Tapi tidak bagi Radit kala itu.
Koala Kumal. Bab ini tidak panjang, hanya menceritakan asal-usul mengapa Radit memilih Koala Kumal sebagai judul buku ini. Meski isinya pendek, tapi efek nyeseknya lumayan berasa.
Ada Jagwe di Kepalaku. Cerita tentang Radit yang masa kecilnya tak punya banyak teman. Di saat ia sudah mulai dekat dengan dua sahabat barunya, terjadi peristiwa yang membuat persahabatan mereka merenggang.
Ingatlah Ini Sebelum Bikin Film. Tentang Radit yang tidak ingin keluarganya menonton film Cinta Brontosaurus sebab ia khawatir keluarganya, terutama Bapak, akan marah karena digambarkan dengan begitu konyol di film itu.
Balada Lelaki Tomboi. Gimana rasaya pacaran dengan dengan cewek yang lebih ‘laki-laki’ dibanding kamu? Radit pernah mengalaminya. Intinya, cewek ini bikin Radit jadi nggak pede sebagai laki-laki. Dan untuk pertama kalinya Radit bela-belain melatih fisiknya agar mampu mengimbangi si cewek yang memang jago olah raga. Sayang, perjuangan Radit harus berakhir tak manis.
Panduan Cowok dalam Menghadapi Penolakan.
Kucing Story. Cerita ketika Radit hendak membeli kucing.
LB. Ceritanya bersetting di Thailand.
Perempuan Tanpa Nama. Bab ini berkisah tentang perempuan-perempuan yang pernah menyentuh hati Radit. Sayang, karena keadaan (juga karena Raditnya sendiri sih), ia jadi tak bisa mengetahui nama mereka. Meski begitu, setelah bertahun-tahun berlalu, rupanya para Perempuan Tanpa Nama itu masih ngenggeliat di salah satu sudut otak Radit, sehingga ia menuliskan tentang mereka di bab ini.
Menciptakan Miko. Radit bercerita tentang awal mula ia menciptakan Miko. Benar-benar mulai dari nol. Radit yang nggak punya latar belakang di bidang film sempat kewalahan. Di sini juga diceritakan awal mula perekrutan karakter Anca si asisten rumah tangga.
Lebih Seram Dari Jurit Malam. Cerita ini sewaktu Radit masih SMP. Horor-horor lucu gitu ceritanya. Pada bab ini, Radit bercerita tentang dirinya yang tak sadar telah membuat orang lain patah hati.
Patah Hati Terhebat. Yang mengalami bukan Radit, tapi temannya. Tragis banget. Patah hati yang dialami si teman itu membuat cara pandangnya terhadap cinta berubah total.
Aku Ketemu Orang Lain. Cerita tentang pacaran jarak jauh. Mungkin LDR bisa berhasil bagi beberapa orang. Tapi tidak bagi Radit kala itu.
Koala Kumal. Bab ini tidak panjang, hanya menceritakan asal-usul mengapa Radit memilih Koala Kumal sebagai judul buku ini. Meski isinya pendek, tapi efek nyeseknya lumayan berasa.
Conto Pawarta Basa Jawa
Lengene
Bayi Digunting Ibune Dhewe
(Jombang)
Miris banget kelakuane Nur Inani Ana (33) warga Dusun Ngudirejo, Diwek. Marang
putrine dhewe. Dheweke tega nggunting tangan bayine kang isih umur 7 wulan dek wingi
(25/8). Nyebabake lengen kiwa bayine meh pedhot.
“Otot
lengene pedhot, sawise diwenehi pangrumatan, bayi kasebut terus dirujuk menyang
RSUD dr.Soetomo Surabaya,” atur dr. Agung, dokter jaga UGD RSUD Jombang.
Agung
ngrujuk bayi kasebut menyang RSUD dr. Soetomo sawise nyuwun palilah menyang
dokter spesialis. ”Sawise tatune ditutup, bayi langsung karujuk menyang RSUD
dr. Soetomo.” ujare. Kahanan balunge pedhot opo ora durung iso menehi katrangan
kang rinci. ”Kawula dereng ngantos mreksani kahanan balungipun langsung kawula
rujuk.” ujar dr. Agung. Aisyah (jenenge bayi kasebut) digawa keluargane menyang
RSUD Jombang jam 10.00, kahanane parah banget. Awake lemes, amergo ngetokake getih
waras saka lengen kiwone. Nganti ora bisa nangis naming misek-misek lan luh
mripate dredes terus.
Tekan
rumah sakit, Aisyah langsung diinfus liwat sikile, sedelo banjur iso nangis.
Tangis Aisyah leren amergo bapake menehi dot susu formula.
Aisyah,
putri kang kapisan pasangan Arifin (31) lan Nur Inani Ana. Kedadean diwiwiti
saka tangise Aisyah, ora ngerti sebab apa kok nangis terus saka isuk. Ing omah
gedhe iku, anane mung Aisyah, ibune lan simbah putri, Sa’adah (48). Arifin
bapake Aisyah wiwit isuk wis budhal menyang pasar cukir dodolan sayuran. ”Aku
keprungu tangise wiwit jam 05.30,” kandane salah sijine paman Aisyah omahe ora
adoh saka omah korban. ”Tak kiro nangis lumrah. Tangise kok ora kaya biasane, tangisane
kok suwe banget, padahal biasane bocah kuwi ceria banget.” ature pamane.
Jam
09.30, dheweke ngajak Sa’adah niliki Aisyah ing kamare, sakarone kaget banget weruh
tangane Aisyah ngetokake getih nganti nelesi seprei lan jogan. Ibune dhewe mung
mandeng wae.
Ora
kepingin putune tambah parah, Sa’adah lan putrane (paman Aisyah) gawa Aisyah
menyang RSUD Jombang. Sawetara Aisyah dirujuk menyang RSUD dr. Soetomo Surabaya
dikancani bapake dhewe jam 11.30, Sa’adah mulih niliki kahanan ibune korban.
Arifin
kaget banget weruh kahanan kaya mangkene. ”Wektu kadadean aku isih ning pasar.
Saka pasar aku langsung budhal mrene,” kandane Arifin.
TUGAS
What (apa) : Lengene bayi digunting ibune dhewe
When (kapan) : 25
Agustus 2012
Who (sapa) : Nur Inani Ana : pelaku; Aisyah : korban; Arifin : bapake
korban; Sa’adah : simbahe korban; Paman : pamane korban
Why (ngapa) : Ngetokake darah akeh saka tangan sing digunting ibune
Where (ningendi) : RSUD Jombang
6.
How (kepiye) : Aisyah
kahanane parah banget
Sabtu, 01 Agustus 2015
Laporan Kunjungan Museum Dharma Wiratama
Roza Afia Hanifajhosi
X-9/ 23
LAPORAN KUNJUNGAN
(Museum Pusat TNI-AD “Dharma Wiratama” Yogyakarta)
Hari, Tanggal Pelaksanaan : Kamis, 30 Juli 2015
Tempat Pelaksanaan : Museum Pusat TNI AD “Dharma Wiratama”
Waktu Pelaksanaan : 08.20 – 10.10 WIB
Tujuan Kegiatan : Siswa dapat mengetahui serta memahami sejarah para anggota TNI AD dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia; menyelesaikan tuga yang diberikan saat MOPDB
Jumlah Peserta Kegiatan : 256 Siswa SMA Negeri 6 Yogyakarta
Pelaksanaan
Kunjungan ini disambut baik oleh para petugas dan tentara yang berjaga di museum. Mereka menceritakan satu persatu dari 21 ruangan yang ada di Museum TNI AD Dharma Wiratama dengan semangat dan senyuman.
Sejarah Singkat
Museum Pusat TNI AD “Dharma Wiratama” adalah museum khusus yang memiliki koleksi tentang peran serta TNI AD dalam perjuangan Indonesia.
Bangunan Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1900 dan digunakan sebagai tempat tinggal para pejabat/admininstratur perkebunan Belanda di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Gagasan pendirian Museum ini berawal dalam lingkungan Sejarah Militer AD (SMAD) yang berencana untuk membangun sebuah museum yang akan digunakan untuk menampung benda-benda koleksi perjuangan TNI AD.
Setelah mendapat persetujuan Kasad, maka dikeluarkanlah surat perintah kepada Pangdam VII/Diponegoro agar menyerahkan gedung tersebut untuk dimanfaatkan sebagai Museum Pusat TNI AD. Berdasarkan Surat Keputusan Kasad No. Skep/547A/l/1982, tanggal 17 Juli 1982 museum pusat TNI AD disahkan. Kemudian pada tanggal 30 Agustus 1982 diresmikan oleh Kepala Staf TNI-AD Jendera Ponimain dengan nama Museum Pusat TNI AD "Dharma Wiratama". Dharma Wiratama yang berarti pengabdian luhur yang telah disumbangkan oleh prajurit TNI AD di bidang Hankam baik berupa senjata maupun amal baktinya di bidang non Hankam kepada negara.
Koleksi Museum
Di dalam Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama terdapat 21 ruangan, meliputi:
1. Ruang 1 (Ruang Pengantar)
Terletak di bagian tengah depan gedung utama sebagai ruang pengantar para pengunjung untuk memahami nilai dan arti perjuangan serta pengabdian para pahlawan dan pejuang dalam merebut, mengisi, dan mempertahankan kesejarahan Museum Pusat TNI AD "Dharma Wiratama".
2. Ruang 2 (Ruang Pangsar Jendral Soedirman)
Amanat Djenderal Soedirman 5 Oktober 1949 :
“. . . bahwa kemerdekaan sesuatu negara jang didirikan diatas timbunan/ runtuhan ribuan korban djiwa harta-benda dari rakjat dan bangsanja tidak akan dapat dilenjapkan oleh manusia siapapun djuga.”
3. Ruang 3 (Ruang Letjen. Urip Sumoharjo)
4. Ruang 4 (Ruang Palagan)
Terdapat kronologi 8 palagan besar di Indonesia, yaitu:
a. Palagan Medan (Pertempuran Medan Area)
b. Palagan Palembang (Pertempuran 5 hari 5 malam)
c. Palagan Bandung (Bandung Lautan Api)
d. Palagan Semarang (Pertempuran Lima Hari)
e. Palagan Ambarawa
f. Palagan Surabaya (Pertempuran Surabaya)
g. Palagan Bali (Puputan Margarana)
h. Palagan Makassar
5. Ruang 5 (Ruang Senjata Modal Perjuangan)
6. Ruang 6 (Ruang Dapur Umum)
Diprakarsai oleh Ibu Ruswo.
7. Ruang 7 (Ruang Alat Perhubungan dan Alat Kesehatan pada Masa Perang Kemerdekaan)
Koleksi alat hubung berupa radio pemancar dan radio penerima. Sedagkan alat kesehatan berupa alat operasi untuk merawat prajurit yang terluka dan sakit saat terjadi pertempuran.
8. Ruang 8 (Ruang Perang Kemerdekaan)
9. Ruang 9 (Ruang Perang Kemerdekaan)
10. Ruang 10 (Ruang Perang Kemerdekaan)
11. Ruang 11 (Ruang Panji – Panji)
Koleksi panji-panji yang dipamerkan :
a. Panji-panji Kesatuan TNI AD
b. Pataka Kotama/Balakpus
c. Dhuaja Resimen, Brigadir, Korem, Grup
d. Sempana Kodiklatad dan Rindam
e. Tunggul Batalyon
f. Pathola Depo Pendidikan
12. Ruang 12 (Ruang Gamad)
Di Ruang ini dipamerkan berbagai bentuk dan jenis seragam Angkatan Darat meliputi PDH, PDU, PDL beserta atributnya dari tahun 1950 sampai dengan 1980.
13. Ruang 13 (Ruang Tanda Jasa)
Di ruang ini dipamerkan Tanda Jasa /Penghargaan berupa Bintang Jasa dan Satya Lencana sebagai pengakuan dan penghargaan atas jasa para prajurit yang telah berjuang, mengabdi kepada bangsa dan negara sehingga dapat memberikan dukungan moril dan kebanggaan kepada yang bersangkutan, keluarga dan generasi penerus.
14. Ruang 14 (Ruang Peristiwa)
Di ruang ini digambarkan peristiwa pemberontakan PKI, DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat, DI/TII Sulawesi Selatan, gerakan separatis dan Operasi Militer yang digelar TNI dalam rangka memulihkan keamanan, mempertahankan keutuhan wilayah dan menjaga kedaulatan NKRI.
15. Ruang 15 (Ruang Peristiwa)
16. Ruang 16 (Ruang Peristiwa)
17. Ruang 17 (Ruang Alat Peralatan)
Di ruang ini dipamarkan benda-benda bersejarah yang dipergunakan pada gelar operasi satuan Angkatan Darat dalam menanggulangi gangguan keamanan dari pihak-pihak yang merongrong NKRI yang berupa senjata, alat optik, alat perhubungan, dan mesin elekrtonik.
18. Ruang 18 (Ruang Piagam Keutuhan TNI AD dan Kontingen Garuda)
Di ruang ini digambarkan situasi tahun 1950, peristiwa rakyat demonstrasi sebagai usaha menyatukan konflik internal Angkatan Darat yang dirintis oleh Kol. Bambang Sugeng dan berhasil dilaksanakan upacara di Istana Gedung Agung yang dipimpin Presiden Sukarno dengsn ditandai tangani Piagam Keutuhan.
19. Ruang 19 (Ruang Pahlawan Revolusi)
20. Ruang 20 (Ruang Trikora)
21. Ruang 21 (Ruang Penumpasan G 30 S/ PKI)
22. Bunker
Kesimpulan
Dengan mengadakan kegiatan kunjungan museum ini, siswa dapat menambah pengetahuan dan mengetahui perjuangan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia serta lebih giat dalam menjaga keutuhan NKRI.
Saran
- Diberi sedikit penerangan dalam museum
- Rutin diadakan kunjungan museum
- Ditambah tumbuhan supaya lebih rindang
Kesan dan Pesan
Saya senang diadakan kunjungan seperti ini. Pesan saya, kalau bisa kunjungan museumnya lebih jauh dan diberi snack serta minum.
X-9/ 23
LAPORAN KUNJUNGAN
(Museum Pusat TNI-AD “Dharma Wiratama” Yogyakarta)
Hari, Tanggal Pelaksanaan : Kamis, 30 Juli 2015
Tempat Pelaksanaan : Museum Pusat TNI AD “Dharma Wiratama”
Waktu Pelaksanaan : 08.20 – 10.10 WIB
Tujuan Kegiatan : Siswa dapat mengetahui serta memahami sejarah para anggota TNI AD dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia; menyelesaikan tuga yang diberikan saat MOPDB
Jumlah Peserta Kegiatan : 256 Siswa SMA Negeri 6 Yogyakarta
Pelaksanaan
Kunjungan ini disambut baik oleh para petugas dan tentara yang berjaga di museum. Mereka menceritakan satu persatu dari 21 ruangan yang ada di Museum TNI AD Dharma Wiratama dengan semangat dan senyuman.
Sejarah Singkat
Museum Pusat TNI AD “Dharma Wiratama” adalah museum khusus yang memiliki koleksi tentang peran serta TNI AD dalam perjuangan Indonesia.
Bangunan Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1900 dan digunakan sebagai tempat tinggal para pejabat/admininstratur perkebunan Belanda di daerah Jawa Tengah dan Yogyakarta.
Gagasan pendirian Museum ini berawal dalam lingkungan Sejarah Militer AD (SMAD) yang berencana untuk membangun sebuah museum yang akan digunakan untuk menampung benda-benda koleksi perjuangan TNI AD.
Setelah mendapat persetujuan Kasad, maka dikeluarkanlah surat perintah kepada Pangdam VII/Diponegoro agar menyerahkan gedung tersebut untuk dimanfaatkan sebagai Museum Pusat TNI AD. Berdasarkan Surat Keputusan Kasad No. Skep/547A/l/1982, tanggal 17 Juli 1982 museum pusat TNI AD disahkan. Kemudian pada tanggal 30 Agustus 1982 diresmikan oleh Kepala Staf TNI-AD Jendera Ponimain dengan nama Museum Pusat TNI AD "Dharma Wiratama". Dharma Wiratama yang berarti pengabdian luhur yang telah disumbangkan oleh prajurit TNI AD di bidang Hankam baik berupa senjata maupun amal baktinya di bidang non Hankam kepada negara.
Koleksi Museum
Di dalam Museum Pusat TNI AD Dharma Wiratama terdapat 21 ruangan, meliputi:
1. Ruang 1 (Ruang Pengantar)
Terletak di bagian tengah depan gedung utama sebagai ruang pengantar para pengunjung untuk memahami nilai dan arti perjuangan serta pengabdian para pahlawan dan pejuang dalam merebut, mengisi, dan mempertahankan kesejarahan Museum Pusat TNI AD "Dharma Wiratama".
2. Ruang 2 (Ruang Pangsar Jendral Soedirman)
Amanat Djenderal Soedirman 5 Oktober 1949 :
“. . . bahwa kemerdekaan sesuatu negara jang didirikan diatas timbunan/ runtuhan ribuan korban djiwa harta-benda dari rakjat dan bangsanja tidak akan dapat dilenjapkan oleh manusia siapapun djuga.”
3. Ruang 3 (Ruang Letjen. Urip Sumoharjo)
4. Ruang 4 (Ruang Palagan)
Terdapat kronologi 8 palagan besar di Indonesia, yaitu:
a. Palagan Medan (Pertempuran Medan Area)
b. Palagan Palembang (Pertempuran 5 hari 5 malam)
c. Palagan Bandung (Bandung Lautan Api)
d. Palagan Semarang (Pertempuran Lima Hari)
e. Palagan Ambarawa
f. Palagan Surabaya (Pertempuran Surabaya)
g. Palagan Bali (Puputan Margarana)
h. Palagan Makassar
5. Ruang 5 (Ruang Senjata Modal Perjuangan)
6. Ruang 6 (Ruang Dapur Umum)
Diprakarsai oleh Ibu Ruswo.
7. Ruang 7 (Ruang Alat Perhubungan dan Alat Kesehatan pada Masa Perang Kemerdekaan)
Koleksi alat hubung berupa radio pemancar dan radio penerima. Sedagkan alat kesehatan berupa alat operasi untuk merawat prajurit yang terluka dan sakit saat terjadi pertempuran.
8. Ruang 8 (Ruang Perang Kemerdekaan)
9. Ruang 9 (Ruang Perang Kemerdekaan)
10. Ruang 10 (Ruang Perang Kemerdekaan)
11. Ruang 11 (Ruang Panji – Panji)
Koleksi panji-panji yang dipamerkan :
a. Panji-panji Kesatuan TNI AD
b. Pataka Kotama/Balakpus
c. Dhuaja Resimen, Brigadir, Korem, Grup
d. Sempana Kodiklatad dan Rindam
e. Tunggul Batalyon
f. Pathola Depo Pendidikan
12. Ruang 12 (Ruang Gamad)
Di Ruang ini dipamerkan berbagai bentuk dan jenis seragam Angkatan Darat meliputi PDH, PDU, PDL beserta atributnya dari tahun 1950 sampai dengan 1980.
13. Ruang 13 (Ruang Tanda Jasa)
Di ruang ini dipamerkan Tanda Jasa /Penghargaan berupa Bintang Jasa dan Satya Lencana sebagai pengakuan dan penghargaan atas jasa para prajurit yang telah berjuang, mengabdi kepada bangsa dan negara sehingga dapat memberikan dukungan moril dan kebanggaan kepada yang bersangkutan, keluarga dan generasi penerus.
14. Ruang 14 (Ruang Peristiwa)
Di ruang ini digambarkan peristiwa pemberontakan PKI, DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat, DI/TII Sulawesi Selatan, gerakan separatis dan Operasi Militer yang digelar TNI dalam rangka memulihkan keamanan, mempertahankan keutuhan wilayah dan menjaga kedaulatan NKRI.
15. Ruang 15 (Ruang Peristiwa)
16. Ruang 16 (Ruang Peristiwa)
17. Ruang 17 (Ruang Alat Peralatan)
Di ruang ini dipamarkan benda-benda bersejarah yang dipergunakan pada gelar operasi satuan Angkatan Darat dalam menanggulangi gangguan keamanan dari pihak-pihak yang merongrong NKRI yang berupa senjata, alat optik, alat perhubungan, dan mesin elekrtonik.
18. Ruang 18 (Ruang Piagam Keutuhan TNI AD dan Kontingen Garuda)
Di ruang ini digambarkan situasi tahun 1950, peristiwa rakyat demonstrasi sebagai usaha menyatukan konflik internal Angkatan Darat yang dirintis oleh Kol. Bambang Sugeng dan berhasil dilaksanakan upacara di Istana Gedung Agung yang dipimpin Presiden Sukarno dengsn ditandai tangani Piagam Keutuhan.
19. Ruang 19 (Ruang Pahlawan Revolusi)
20. Ruang 20 (Ruang Trikora)
21. Ruang 21 (Ruang Penumpasan G 30 S/ PKI)
22. Bunker
Kesimpulan
Dengan mengadakan kegiatan kunjungan museum ini, siswa dapat menambah pengetahuan dan mengetahui perjuangan para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia serta lebih giat dalam menjaga keutuhan NKRI.
Saran
- Diberi sedikit penerangan dalam museum
- Rutin diadakan kunjungan museum
- Ditambah tumbuhan supaya lebih rindang
Kesan dan Pesan
Saya senang diadakan kunjungan seperti ini. Pesan saya, kalau bisa kunjungan museumnya lebih jauh dan diberi snack serta minum.
Jumat, 13 Maret 2015
Pranatacara Adicara Perpisahan Siswa Kelas IX
Assalamualaikum Wr. Wb.
Ingkang kinurmatan Kepala SMP N 2 Mlati,
Ibu Rini Trimurti Mg, S. Pd., M. Hum. Ingkang kula hurmati Bapak/ Ibu guru
sarta kanca – kanca ingkang kula tresnani.
Langkung rumiyin sumangga kita aturaken
puji syukur dhumateng ngarsanipun Gusti Allah ingkang sampun kepareng paring
kanugrahan arupi kasarasan jasmani lan rohani sahengga ngantos wekdal punika
kita saged makempal ing Aula SMP N 2 Mlati ing adicara perpisahan siswa kelas
IX.
Kula ingkang jinejer minangka pranatacara
badhe ngaturaken reroncening adicara ing enjing menika.
1.
Pambuka
2.
Tanggap
wacana saking Kepala Sekolah
3.
Tanggap
wacana saking Ketua OSIS
4.
Tanggap
wacana saking Ketua Panitia
5.
Sumene
6.
Donga
lan panutup
Menika kala wau
reroncening adicara ingkang badhe kita lampahi. Nuwun.
Langganan:
Postingan (Atom)